Yogyakarta - "Wayang plataran" bukan merupakan bagian dari peringatan
1000 hari orang meninggal, namun tradisi ini dikenal sebagai Nyewu atau Seribu
Hari, yaitu upacara selamatan dengan pengajian, tahlilan, dan doa bersama yang
dilaksanakan pada 1000 hari setelah kematian untuk mendoakan almarhum dan
sebagai bentuk rasa syukur serta keikhlasan melepas kepergiannya.
Seperti yang dilakukan oleh salah satu warga di Jalan Surami RT 53 RW 14
Kampung Mantrijeron Kelurahan Mantrijeron Kemantren Mantrijeron, untuk
memperingati 1000 hari meninggalnya almarhum bapak Suwardi Sastro Prawiro.
Selasa (16/09/2025)
Dalam acara Wayang Plataran ini dihadiri oleh Mantri Pamong Praja Mantrijeron,
Lurah Mantrijeron, Anggota komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Babinsa Mantrijeron,
Bhabinkamtibmas Mantrijeron serta tokoh masyarakat lainnya.
Babinsa Mantrijeron Serka Sumaryadi mengatakan “Perayaan ini bertujuan untuk
mengundang kerabat dan tetangga, menyedekahkan makanan sebagai bentuk
penghormatan, serta mempererat silaturahmi, yang menunjukkan perpaduan antara
budaya Jawa dan nilai-nilai Islam”.
“Memperingati 1000 hari orang meninggal atau sering disebut Nyewu mencerminkan
proses Islamisasi di Jawa yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam, seperti
tahlil dan doa bersama, dengan budaya lokal. Dengan cara mengundang tetangga
dan kerabat untuk bersama-sama berdo’a dan mengenang almarhum, memperkuat
ikatan sosial dan silaturahmi antarwarga”, pungkas Sumaryadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar